Mr. A inside Blog

22 May 2006

Dari Jogja hingga muara Sungai Opak

Filed under: Personal

Bersepeda sebenarnya bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan, selain juga untuk alat transportasi sederhana, bersepeda juga dapat digunakan untuk refreshing atau jalan-jalan ke tempat wisata. Ini adalah pengalamanku selama aku masih kuliah, yach… keliling jogja pake sepeda………….

Sebelum kesana, masa latihan
Pada bulan September 2005, waktu itu aku masih mahasiswa semester akhir, di masa-masa aku harus menyelesaikan skripsi, aku sering jalan-jalan naik sepeda untuk refreshing. Kadang aku menelusuri Ring Road Utara, Timur, atau Selatan dan sebagian Ring Road Barat. Aku dulu juga sering melewati jalan solo dan mampir di sisi timur Bandara Adisucipto melihat pesawat sambil istirahat sejenak. Bila waktu terbatas aku biasanya bersepeda di sekitar kota. Kadang aku menelusuri jalan Wonosari menuju Gunung Kidul, dan pernah sampai menanjak pake sepeda dan aku duduk di suatu sudut bukit kecil sambil melihat pemandangan di bawah, sungguh lebih melelahkan dan lebih capek daripada lari.

Tanpa rencana, akhirnya ke Imogiri
Ternyata aku tidak cukup puas dengan wilayah sekitar Jogja. Suatu pagi aku lihat-lihat sebuah peta, dan sebenarnya aku punya target untuk mengelilingi Ring Road dalam satu kali perjalanan dan kemudian menaklukkan beberapa pantai di Jogja. Namun pagi itu aku tertarik untuk menjelajahi jalan Imogiri. Setelah rencanaku bulat, aku pun berangkat dengan membawa air minum botol kecil, tas, dan sebuah peta Jogja. Aku berangkat sekitar pukul 07.00 wib. Sambil melihat-lihat di sekeliling jalan, tak terasa ternyata aku sudah sampai di Imogiri, aku lihat jam masih pukul 08.00 wib. Aku coba lihat peta lagi, aku tertarik untuk meneruskan perjalanan melewati Gua Cerme hingga sampai di pertigaan dekat jembatan yang menghubungkan Jogja dengan pantai Parang Tritis, Parang Kusumo, dan Depok. Aku pikir, mumpung masih pagi, masih kuat, dan sudah sampai Imogiri, mending sekalian sampe pantai.

Menyusuri sungai dan bukit-bukit kecil
Ooo… ternyata jalannya tidak rata, sebagian jalan masih melewati bukit-bukit kecil. Ini tantangan bagiku, aku harus melewatinya dan aku juga harus mempertimbangkan bagaimana pulang nantinya. Aku teruskan perjalanan, ketika ada jalan sedikit menanjak aku terpaksa turun dan jalan kaki, hitung-hitung menghemat tenaga, dan juga air tinggal dikit, sedangkan di jalan itu hanya banyak sawah dan ladang. Ternyata asyik juga, bersepeda lewat sana, udara segar, sebelah kiri bukit-bukit, sebelah kanan sungai Opak, dan banyak perkebunan yang membentang luas.

Pintu masuk Paris, aku putar haluan
Akhirnya aku tiba di pertigaan dekat pintu masuk ke pantai Parang Tritis. Aku beli air, dan sedikit roti karena memang belum sarapan, akhirnya badan kembali berenergi. Aku berfikir lagi, apakah aku kuat pulangnya nanti bila aku teruskan ke Parang Tritis. Masih bingung, hingga aku lihat ada jalan sebelah selatan sebelum pintu masuk, dan jalannya bagus. Mungkin aku lebih baik coba jalan ini sampai pantai terdekat supaya tidak terlalu jauh, dan ketika aku lihat peta, aku perkirakan jaraknya hanya empat kilometer, cukup dekat karena jalannya mulus. Akhirnya aku sampai juga di sebuah pantai. Pantai yang waktu itu aku tidak tau pantai apa, dimana disana merupakan tempat pelelangan ikan.

Sampai di pantai, terlena
Aku bawa sepeda melewati pesisir pantai, aku mencoba untuk memakainya, oh… ternyata pasirnya terlalu lembut untuk menahan ban, sehingga masuk lebih dalam, dan ooohh… berat sekali. Aku harus membawanya, itupun juga terasa berat, butuh tenaga lebih banyak, sampai aku berada di ujung pantai bagian barat, tepatnya di muara sungai Opak, muara itu memang banyak delta, sehingga seakan membentuk danau, apalagi bila pasang. Aku bertahan disana sekitar 1/2 jam, sambil menikmati suasana pantai dan air yang tenang di sebelahnya, yaitu muara sungai. Sangat alami, sepi, hanya ada nelayan dan burung liar. Tapi hari sudah siang, sudah mulai panas, aku harus pulang sebelum tengah hari.

Lelah mulai terasa, nyobain undur-undur ah..
Aku sudah merasakan badan terasa lelah, kaki sudah mulai pegal, perut juga sudah lapar lagi. Mau tidak mau aku harus merasakan perjalanan pulang. Sebelum pulang aku sempat beli undur-undur, sebagian aku makan di perjalanan, hitung-hitung nambah energi. Siang itu rupanya panas sekali, sejak dari pantai topi tidak aku lepas, dan sleyer aku tutupkan ke leher dan di samping mukaku untuk mengurangi panas, aku tetap pakai jaket agar tanganku juga terlindungi dari teriknya matahari.

Aku harus memutar kaki sepanjang 30 KM lagi
Aku pulang melewati jalan berbeda, bila waktu berangkat melewati jalan Imogiri, maka pulangnya aku lewat jalan Parang Tritis. Sebelum melewati jembatan Sungai Opak, aku lihat ada tulisan, Jogja 24 KM. Angka yang membuatku sedikit takut, dikala badan sudah lelah dan kaki sudah pegal, padahal satu-satunya mesin penggerak hanyalah kaki, dan bahan bakar hanya sedikit roti dan undur-undur ditambah air minum di botol kecil. Tapi aku harus pulang…..

Berangan cepat sampai….
Aku tidak menyesal, karena aku memang ingin menjelajahi sampai pantai dengan sepedaku. Tapi terik matahari rupanya cukup membuat tenagaku banyak terkuras. Setiap ada perempatan aku berharap ini sudah separo jalan. Namun bagaimanapun juga, putaran pedal sudah berkurang, walaupun begitu aku tetap mengusahakan untuk melakukannya dengan konstan dan seperti ketika aku berangkat, sehingga aku bisa memperhitungkan waktu perjalanan dan jarak tempuh.

Ingin rasanya tidur, tapi tak mungkin
Di tengah perjalanan aku terpaksa berhenti, kira-kira 10 kilometer dari Jogja, masih terasa jauh sekali untuk sampai kos. Aku beli teh hangat, bukan es karena khawatir sakit, makan gorengan dan pisang untuk menambah kalori. 10 KM dapat ditempuh dalam waktu satu jam, jalan Parang Tritis masih 10 KM lagi, berarti masih butuh waktu satu jam lebih untuk sampai kos. Waktu itu sudah jam 11 siang, aduhai…. panas sekali, capek sekali…, tapi aku sudah lega, soalnya sudah dapat energi. Tapi bagaimanapun juga, tidak sekuat ketika berangkat, aku solat di masjid beberapa kilometer dari perempatan Ring Road, serasa ingin tidur, tapi belum nyampe kos, dan bagaimanapun juga aku tidak mungkin berhenti, aku harus pulang.

Mama… aku ingin pulang………….

Sampai rumah, langsung K O
Akhirnya sampai juga di Ring Road, putaran kaki tidak lagi teratur, iramanya sudah mulai lunglai, tak berdaya. Hitung-hitung 65 kilometer harus dilalui dalam waktu 5 jam. Namun dengan kunci kaki biarkan terus berputar, biarkan bergerak bagaikan gerakan refleks, akhirnya sampai juga di kos, hanya berselang beberapa menit, aku pun tertidur, kepala sakit, sore bagun juga masih terasa sakit, andai ada yang mijatin kaki, sungguh berharga sekali.

Akhir cerita
Inilah pengalamanku bersama kudaku, meski ada rencana sebelumnya, namun perjalananku itu sebetulnya tak terencana, tanpa persiapan yang cukup. Petualanganku sampai gunung kidul rupanya menjadi latihan yang sangat cukup untuk sampai ke pantai.

Maklum tenagaku memang pas-pasan…..
Tapi sungguh menyenangkan…. :)

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://roby.blogsome.com/2006/05/22/dari-jogja-hingga-muara-sungai-opak/trackback/

  1. wah.. salut aku bisa keliling jogja, naik sepeda. kapan2 kalo ke imogiri mampir donk ke rumah. hehehe….
    Kayaknya bisa masuk rekor MURI ni (Museum Rekor Pribadi)

    Comment by akhsan — 22 May 2006 @ 2:41 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com