Mr. A inside Blog

17 July 2008

Belajar mancing pake spinning reel

Filed under: Pribadi

Berawal dari liburan akhir pekan, tepatnya Sabtu, 21 Juni 2008 lalu. Siang itu istriku ngajakin mancing bersama, refreshing sekalian makan ikan, lagian lama juga nggak mancing. Aku, istri dan anakku yg baru berumur 5 bulan setengah serta adik ipar berangkat sekitar jam 3 sore ke pemancingan di Kadisuko, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Cukup menyenangkan meski hanya dapet ikan nila dan kebanyakan kecil-kecil. Tapi ada satu hal yang menarik bagi kami, tetangga seberang kolam yang juga mancing kok enak banget yach, sambil duduk cukup hanya dengan mengayunkan joran, pyuuuurrr, kail dah muluncur jauh ke ujung kolam dan kalo kail disambar ikan, tinggal putar aja reel (penggulung), ikan dah tertarik mendekat dan tinggal diangkat.

Sepulang dari sana mulai terpikirkan untuk membeli peralatan pancing yang lebih serius. Besok harinya Minggu, 22 Juni 2008 kami putuskan untuk beli joran dan reel, sebenarnya mau beli di toko pancing Satria sebelahnya Progo swalayan, tapi karena cukup jauh dari rumah di Maguwo akhirnya belinya di toko olah raga aja, karena butuh 2 buat aku dan adik iparku dan di toko tempat beli pertama hanya tersedia 1 maka beli satunya lagi di Mirota, tanpa modal ilmu dan wawasan tetang peralatan pancing kami beli apa yang kami tau saja, joran, reel, kenur, pelampung, pemberat, dan kail.

Sesampainya di rumah, jam dinding sudah menunjukkan pukul 3, sudah cukup sore karena kami berangkat ke toko sudah lewat siang hari. Rencananya sesampai di rumah istirahat sebentar langsung pergi ke pemancingan, eh gak terpikirkan, kami kan harus pasang dulu reel di joran beserta kenur dan perlengkapan lainnya. Masalahnya tidak sesimpel yang dibayangkan, kalo hanya memasang kail dan kenur itu dah biasa, sejak kecil juga sering mancing, tapi memasang kenur di reel ini yang belum pernah tau sebelumnya, dengan sedikit mikir akhirnya selesai juga, mesikipun banyak bagian dari reel yang kami tidak tau fungsinya, ah nggak apa-apa, kan dah bisa dipake buat mancing. Namun jam sudah menunjukkan pukul 16:30, duh dah keburu sore, ntar cuma bisa mancing bentar nih. Tapi nggak papa lah kan dekat, tinggal berangkat aja.

Kami pun berangkat, kali ini hanya berdua, aku dan adik iparku saja. Dengan semangat yang menggebu dan percaya diri kami mulai berjalan menuju sisi kolam dan bersiap untuk melempar kail. Ternyata oh ternyata.. dengan lugunya kami beberapa kali mengayunkan joran, eh itu kail gak meluncur juga, akhirnya kembali memutar otak sambil nyoba-nyoba gimana caranya, ada sedikit gambaran, kawat penahan kenur pada reel dibuka dulu dan kenur di tahan menggunakan jari telunjuk kemudian joran diayun agar kail terlempar sambil melepas kenur yang tadi ditahan dengan telunjuk dan setelah kail mendarat di air dan cukup jauh baru kawat penahan ditutup lagi. Yesss, cukup jitu meski nggak tau cara ini benar atau salah. Adik iparku pun bertanya, eh gimana caranya, akupun dengan pedenya menjelaskan sambil mencontohkan, ups.. bukan hasil yang memuaskan, tapi kenur jadi kusut dan nyelip-nyelip di reel.. wah jadi tambah kacau deh, belum dapat ikan lagi, wajah kami pun berubah yang tadinya percaya diri menjadi malu sendiri meskipun sebenarnya nggak ada orang disitu.

Waktu sudah semakin sore menjelang malam, kami banyak sibuk membetulkan kenur yang kusut dan terpaksa juga diputus kemudian disambung lagi, meski banyak kendala kami mulai bisa menggunakannya ketika sudah malam sekitar pukul 6 hingga 7 malam tapi sudah keburu pulang soalnya tempatnya tutup jam 8. Yach begitulah, akhirnya pulang dengan membawa total 1,2 kg ikan nila ditambah 1 ekor bawal bercampur penasaran bagaimana sih sebenarnya cara mancing pake joran yang dilengkapi dengan reel.

Lain alat lain pula caranya, kalo diingat masa kecil dulu ketika sering mancing di selokan, kolam, sungai kecil dan sumur-sumur dekat rumah yang hanya menggunakan sembarang joran biasanya bambu kecil atau pelepah salak dan cukup dengan mengikat kenur ke joran dan kail, diberi umpan cacing atau belalang, dapat dah ikan gabus, betok, atau lele.

Hmm.. tapi kenapa aku baru tau sekarang ya nikmatnya mancing pake spinning reel. Orang sudah banyak yang macing ke danau, waduk, sungai besar dan lautan dengan berbagai teknik casting, popping, jigging, trolling, dan sebagainya. Tapi gak apa lah, namanya juga baru tau, yang penting kalo emang mau diterusin dan digeluti sampe jadi hobi oke juga tuh, biar sering jalan-jalan.

Liburan berikutnya mancing dimana ya…

11 January 2008

Bahagianya Bersamamu Buah Hatiku

Filed under: Pribadi

Segala puji bagi Allah, hari selasa lalu, tanggal 8 Januari 2008, tepatnya pukul 03:50 anakku telah lahir melalui persalinan normal dengan berat 3,7 kg dan panjang 51 cm. Rasa bahagia tak terbendung lagi, saat itu aku berada didekat istriku. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, istri dan anakku pun sehat.

Beberapa saat setelah keluar dari rahim ibunya, tangisan pun terdengar, menyambut subuh dan suara azan. Kuberikan dia nama yang aku suka “Nafisa Meutia Rahma”. Panggil saja “Nafisa”. Nafisa diambil dari nama ulama wanita Sayyida Nafisa, ia adalah guru Imam Syafi’i.

“Sayyida Nafisa lahir di Madinah pada tahun 145 Hijriah. Ia keturunan langsung Nabi Muhammad SAW melalui cucu beliau Imam Hasan as. Putera pasangan Imam Ali as dan Sayyida Fatimah as itu memiliki seorang anak bernama Zaid, dan selanjutnya Zaid mempunyai anak bernama Hasan Al Anwar, ayah Nafisa. Jadi, Hasan Al Anwar adalah cucu Imam Hasan as”.

Nafisa dalam bahasa arab adalah Naafisah juga berarti yang bernilai atau yang kaya, Huruf h dihilangkan untuk mempermudah pengucapan. Meutia atau bisa juga dibaca Mutia berarti wanita atau keibuan, sedangkan Rahma berasal dari kata Rahmah berarti rahmat atau kasih sayang. Meutia Rahma dapat diartikan wanita yang penyayang.

Anakku sayang, semoga namamu menjadi gambaran dari akhlakmu kelak, mengingatkan akan Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in, termasuk juga Sayyida Nafisa untuk dijadikan contoh bagi orang-orang yang soleh dan solehah, amin.

Salam sayang dari Ayah dan Ibu untukmu Nafisa.

31 October 2007

Adeniumku

Filed under: Pribadi

Foto di atas adalah foto adeniumku yang sudah berumur 1 tahun lebih, saat aku bongkar untuk repoting hari minggu lalu, 28 oktober 2007, bonggolnya sudah cukup besar, lebih kurang 12 cm. Bonggolnya cukup unik berbentuk seperti bor atau seperti badan siput yang meliuk-liuk.

Saat aku beli setahun yang lalu, ukurannya masih kecil dengan tinggi antara 12-15 cm dengan harga Rp. 7.500, waktu itu aku beli 2 bibit, tapi yang satu mati terkena akarnya terserang jamur. Inilah satu-satunya adenium yang aku punya, kadang malas juga ngurusinnya, tapi setelah liat bonggolnya ternyata asyik juga.

Adenium merupakan salah satu tanaman hias yang mempunyai daya tarik dari bunga dan bonggolnya, sehingga semakin bagus bunga ataupun bonggol semakin tinggi pula nilainya.

22 October 2007

Hunting Pertama Pake SLR Di Pantai Glagah

Filed under: Pribadi

Lebaran tahun ini 1428 H aku gak mudik karena rencananya tahun depan sekalian agar sikecil juga bisa menikmati liburannya bersama kakeknya kelak. Setelah hari jumat dan sabtu bersilaturahmi dengan keluarga di Bantul, minggunya 14 Oktober 2007 kami jalan-jalan ke Pantai Glagah Indah. Meskipun sudah sering jalan-jalan ke tempat wisata di Jogja, ada 1 hal yang berbeda kali ini, aku bisa berburu foto pake SLR.

SLR atau Single-Lens Reflex merupakan jenis kamera yang digunakan oleh pehobi maupun fotografer profesional. SLR dipilih karena apa yang dilihat di view finder (ruang pembidik) pada kamera sama dengan yang akan ditangkap oleh sensor sehingga apa yang kita lihat itulah nanti yang akan menjadi karya foto, SLR bekerja dengan menggunakan cermin datar dan pentaprisma untuk membelokkan cahaya ke mata fotografer, kemudian saat fotografer memencet tombol kecepatan rana (shutter speed) cahaya akan diteruskan ke medium (film atau sensor digital), sehingga lensa yang digunakan cukup satu (Single-Lens), berbeda dengan kamera biasa atau kamera saku, dimana antara bayangan yang akan ditangkap oleh sensor menggunakan lensa yang berbeda dengan apa yang dilihat oleh mata pada view finder.

Keunggulan lain dari SLR adalah adanya pengaturan shutter speed, aperture, auto focus maupun manual focus, ISO, dll sehingga seorang fotografer dapat mengatur exposure sesuai keinginannya. SLR biasanya juga dilengkapi dengan lightmeter untuk mengukur intensitas cahaya. Kamera SLR digital menawarkan lebih banyak kenyamanan dibanding SLR konvensional, dengan SLR digital, tidak diperlukan lagi klise sehingga dapat menghemat biaya dan hasil dapat langsung dilihat di layar LCD.

Satu lagi yang tidak bisa lepas dari SLR, yaitu lensa, lensa pada SLR dapat diganti-ganti sesuai kebutuhan, ada beberapa jenis lensa diantaranya lensa standar (50 mm), lensa wide, dan lensa tele. Lensa tele biasanya digunakan untuk mengambil objek jarak jauh, panjang focal lensa bisa mencapai ratusan mm, masih ada jenis lensa lainnya seperti lensa makro dan lain-lain (kalo bingung, tanya mbah google aja yaa… ;) ) atau bisa liat di http://en.wikipedia.org/wiki/Single-lens_reflex_camera

Meskipun aku sendiri tak punya pengalaman dalam hal fotografi, juga tidak ada track yang pernah kulalui dalam kegiatan fotografi, namun aku suka koleksi foto-foto hasil jepretan para ahli, khususnya yang berhubungan dengan alam. Itulah sebabnya momen di tempat wisata ini merupakan kesempatan untuk mencari objek sebanyak-banyaknya untuk dijadikan mangsa.. hehehe.. meskipun kamera yang digunakan hanya menggunakan lensa standar 18-55 mm tapi itu sudah lebih dari cukup, namanya juga belajar atau setidaknya mencoba untuk menjadikannya sebagai hobi baru, meneruskan hobi koleksi gambar pemandangan alam. :D

Berikut beberapa foto kenang-kenangan dari glagah beach..

foto 1

foto2

foto 3

Ketiga foto di atas di ambil dari salah satu lokasi yang ada di pantai glagah, katanya sih disitu akan dibangun dermaga untuk berlabuh para pemburu ikan, kita tunggu aja nanti jadinya.

Sekalian maaf lahir dan batin ya… :)

11 November 2006

Hari yang ku nanti sudah dekat

Filed under: Pribadi

Seorang temanku saat kuliah dulu sering berkata, “Tak ada yang berubah di bawah terik matahari”. Demikianlah kenyataan yang ada di bumi ini sejak zaman dahulu, segala sesuatunya hanya berganti pemain, berganti waktu, dan bergati temanya saja. Apa yang terjadi tetap seperti dahulu.

Menjelang hari ulang tahunku, bulan Januari 2007 mendatang, saat umurku mencapai 24 tahun, seperti yang sudah pernah terangan olehku, ku ingin kehidupan baru dimulai, separoh dari hidupku yang belum pernah aku lewati selama ini. Inilah salah satu sisi kehidupan yang aku sebut sebagai sesuatu yang tak berubah di bawah terik matahari. Aku hanya mengulang apa yang telah dijalani oleh pendahuluku, nenek moyangku, orang tuaku, kemuadian insyaAllah aku dan anak-anakku kelak.

Wahai kawan, doa restumu begitu berarti, meskipun kau tak dapat hadir melihatku duduk di singgasana itu pada hari yang dekat.

3 November 2006

Musim kemarau, penuh asap, air asin, sabun pun tak berbusa

Filed under: Pribadi

Setiap musim kemarau di kampungku samuda, kalimantan tengah, air sungai bahkan sumur akan berubah menjadi asin, maklum dekat dengan lautan. Meskipun jarak dengan lautan 50 km, akan tetapi wilayah yang datar membuat air pasang laut dapat masuk ke dalam sungai sejuah 50 km saat air sungai mulai berkurang di musim panas.

Dalam kondisi seperti ini, mencari air minum sulit, masyarakat biasanya menampung air hujan semenjak musim penghujan, jadi semakin banyak persediaan, semakin mudah pula mengadapi kemarau. Namun demikian, untuk keperluan mandi dan mencuci mau tak mau tetap menggunakan air payau atau bahkan air asin.

Repotnya juga, kalo sudah pake air asin, sabun gak akan berbusa, paling cuman secuil busa yang ada.
Air PDAM juga asin, ngambilnya juga di sungai kok, kalo mau beli yang tawar, ada sih, 1 drum 20 ribu :D .

Satu lagi yang sangat bikin susah, asap. Di daerah tertentu hanya di pagi hari, tapi di daerah lain bisa nonstop, artinya sepanjang hari atau 24 jam selalu ada asap. Butuh masker untuk menghindari sakit atau radang atau batuk. Bahkan jika asap agak tebal, bisa memedihkan mata. Untung di tempatku hanya di pagi hari, tapi tidak jauh dari tempatku sekitar 25 km dari tempatku asap nonstop sehari semalam.

Semoga hujan segera turun di saat kebakaran hutan semakin parah.

Mudik Lebaran, hari H masih di perjalanan

Filed under: Pribadi

Lebaran kali ini aku mudik ke kampung halamanku, Samuda tanggal 21 okt. Sore hari sabtu aku sudah berangkat dari Jogja menuju Semarang karena kapal akan berangkat dari semarang hari minggu tanggal 22 okt jam 7:00 pagi . Pukul 22:30 aku sudah berada di pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Tapi di pelabuhan sepi, padahal biasanya penumpang banyak, aku pikir mungkin ini karena sudah H-2. Selain itu ruang tunggu pelabuhan ditutup, padahal biasanya dibuka. Tak ada pilihan, aku harus menunggu di teras luar/halaman ruang tunggu. Meski ngantuk, aku gak bisa tidur, takut barang dicuri orang, hitung2 sambil menunggu sahur.

Setelah pagi tiba, ada pengumuman dari petugas, kapal akan tiba di pelabuhan semarang pukul 13:00, untungnya sudah ketemu teman lama, akhirnya bisa tidur sambil menunggu siang. Terlambat lagi.

Kapal akhirnya berangkat pukul 16:00 dan sampai di pelabuhan sampit pukul 17:15 besok harinya, atau tanggal 23 okt. Aku harus meneruskan perjalanan ke samuda yang berjarak 40 km dari sampit, namun ternyata aku tdk menemukan mobil/taxi, akhirnya aku menginap di rumah pamanku hingga besok harinya.

Hari selasa, tgl 24 okt 2006, pukul 08:30 aku berangkat dan sampai di samuda pukul 09:30 di saat hari lebaran, setelah solat id selesai dilakukan. Duh sedihnya… Semoga tidak terulang lagi.

21 October 2006

Satu lagi lampu merah tenaga surya

Filed under: Pribadi

Mulai tanggal 19 Oktober kemarin, lampu merah di perempatan kampus UPN Ring Road Utara sudah digunakan.

Lampu merah ini menggunakan tenaga surya sebagai sumber energinya. Satu lagi lampu merah di Yogyakarta bertambah dan menggunakan tenaga surya. Tapi aku gak tau sudah ada berapa yang sudah menggunakan teknologi ini.

Ada satu lagi yang menarik dari lampu merah ini. Selain ada 3 lampu tentunya dan panel penangkap energi matahari, ada juga informasi waktu digital dalam satuan detik yang menandakan berapa detik lagi lampu akan berganti. Misal ketika lampu hijau menyala, akan muncul angka 30 dan terhitung mundur yang menandakan bahwa lampu hijau hanya menyala dalam 30 detik.

Ini tentu sangat bermanfaat buat pengendara, agar bisa memperhitungkan apakah harus segera berhenti atau masih bisa nyempetin dan tancap gas saat lampu hijau tinggal beberapa detik lagi.

18 October 2006

Pulang tanggal 22 okt, lebaran di kapal kali yach..

Filed under: Pribadi

Bingung, mo nulis blog bulan oktober, ceritain pulang aja ah…

moga aja lebaran tanggal 24, kalo tanggal 23, aku mesti lebaran di kapal dong.

berangkat aja tanggal 22, hari minggu jam 8 pagi dari semarang, besok harinya, pagi udah nyampe sampit.

mungkin perlu juga ngerasain solat hari raya di atas kapal. :)

mohon maaf lahir batin. Semoga kita semua diampuni Allah. Amin.

25 September 2006

Gangan Asam Banjar Ternyata Serupa Dengan Pindang Mangut Palembang

Filed under: Pribadi

Sudah lama aku gak mengecap masakan banjar yang diberi nama Gangan Asam, biasanya kalo aku pulang aku minta sama ibu untuk dibuatin. Pas pulang setahun yang lalu aku pernah minta resep itu, siapa tau pas ada kesempatan bisa dicoba.

Semula aku kira Gangan Asam itu sama dengan Sayur AsamJawa, tapi ternyata beda, dan sangat berbeda. Dan setelah hampir setahun lamanya baru aku tau ternyata Gangan Asam Banjar itu serupa dengan Pindang Mangut Palembang.

Alhamdulillah, kemarin aku buka puasa pake masakan itu, pertama kali buat langsung enak seperti aslinya. benar-benar menyenangkan. :)

ada beberapa masakan khas banjar lain yang aku juga suka, Soto Banjar, Masak Habang, dan Gangan Belamak. semoga suatu hari aku bisa membuatnya. :D

*tinggal di jogja sih…., jadi harus bayar mahal karena beli di warung masakan banjar*

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com